How could you think about all those worries?? People never care back!!
Hemm... Yia, people never care back, and I never care whether people care or do not care, that's what I called sincerity. According to my thoughts, thats what counts :)
Tampilkan postingan dengan label Mind Talk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mind Talk. Tampilkan semua postingan
24.3.09
"sincerity"
14.1.09
Anger Management*
Temen2 juga sepertinya bisa menilai kalo saya orangnya gampang banget emosian, dan agak2 vokal. Misalnya ni ya.. kita2 lagi mao karokean, pas dianter ke roomnya, tipi belon nyala, dinyalain, yang ada malah siaran tipi, sinetron, dan siaran laennya yang muncul kalo coba mindah channel, abis itu temen langsung deh ngadu ke mas-mas nya, dia coba benerin, dari gonta-ganti channel juga (yaelah..), trus coba benerin kabelnya, masi juga ga bisa2, trus dia keluar, dateng lagi bawa remote yang beda, coba ganti channel lagi, tetep juga ga bisa. Temen2 yang laen cuman sabar aja duduk ngeliyatin, aku yang ada malah bilang "yawdah mas, kita nonton sinetron aja, gpp". Usut punya usut, blakang baru taw kalo mas-mas yang dari tadi dikira roomboy itu ternyata menejer disana. wkekekeke.. *peace*
Apalagi kalo mulai ada orang yang rese, kalo lagi ga mood bisa ku sanggah aja omongannya langsung dihadapan orangnya. Kok jadi ikutan rese gini yah saya??? Yang kasian si, mbak2 ataw mas2 yang jualan, kalo misalnya pesenanku tidak sesuai sama yang dipesen, ataw sekedar engga dikasi saos-ketchup pas makan di McD. Bah! parah bener.
D'oh, suka tiba2 nangis juga kalo crita sama bokap soal keselnya saya menghadapi dosen (lagi lagi dan lagi), ga taw bawaannya jadi sediih banget, padahal malu juga lagi ngobrol denger nasehat bokap malah nangis, cengeng bener, he eh, saya memang anak yang cengeng, jarang yang taw itu, makanya saya suka sering menghindari perihal episode-episode kritikan ataw sharing sama temen2, suka kebawa emosi, apalagi kalo sifat "arogan" ku di ungkit2, ataw kelemahan laen yang antipati lah, yang terlalu menganggap enteng lah, yang bahkan katanya punya benteng kehidupan dengan aura kehidupan yang segan untuk disentuh. D'oh, istilah dari mana lagi ituuu???
Anger management, anger management, anger management. Waktu pelajaran agama di SD dulu, diajarin cara meredam amarah : kalo lagi berdiri-duduk, kalo lagi duduk-berbaring, kalo tetep engga bisa-berwudhu, dan laksanakan sholat. Secara teori, hal itu saya ingat baik2, tapi secara implementasi, terlupakan mentah2.
Menurut sebuah situs luar negeri terkemuka, ada 7 cara mengatur emosi (anger management).
1. Sadari bahwa dirimu bermasalah dengan emosi (anger). Karena terkadang orang2 yang bermasalah dengan emosi tidak ingin mengakui bahwa mereka bermasalah dengan hal tersebut.
>>> Iya, saya sadar, saya punya masalah dengan 'very bad tempered'.
2. Berhenti, dan mulailah berpikir lebih luas. Take a deep breath, and see the problem such a big picture before you react. Pikirkanlah tentang dampak yang akan terjadi pasca overreact.
>>> Berhenti, dan melihat sesuatu yang dianggap masalah secara lebih luas, lebih banyak sudut pandang, lebih dan lebih positif. Huuuuff... bisa ga ya???
3. Perbedaan pendapat itu bukan masalah. Jadi jangan buat itu sebagai masalah. Orang2 dengan emosi yang buruk terkadang melihat sebuah situasi demikian sempit dan hanya dari dua sisi : hitam dan putih, baik dan buruk. Untuk itu penting untuk belajar menerima bahwa setiap orang berhak untuk memiliki opini subjektif, dan bukan justru tidak mau menerima pendapat orang lain.
>>> I've been trying to do so, and it work kok. Sekalipun cukup dengan mengatakan "ya, ya, ya" pada ketidaksetujuan ku atas pandangan mereka. hahaha.. paling tidak sesudahnya aku tidak marah ataupun memusuhi mereka kok ;)
4. Dengarkan. Jika sedang dalam situasi berdebat dengan seseorang, cobalah untuk mendengarkan, diam, dan dengarkan dengan seksama bagaimana dia melihat sebuah masalah yang ada. Berempatilah, dan cobalah untuk mengerti.
>>> Listen, ya, ya, ya, (ahahahaha....)
5. Have a support network. Sangat membantu dengan memiliki seseorang atau teman yang bisa diajak bicara mengenai hal2 yang membuatmu emosi. Berbicara dan mencurahkan semuanya akan lebih baik daripada memendamnya sendiri. Itu akan menyakiti.
>>> I have the best dadd :)
6. Buatlah sebuah "anger journal". Tulislah tentang setiap kemarahan (emosi) dalam sebuah jurnal khusus, hal ini akan membantu untuk lebih menyelami emosimu.
>>> tis blog is one of the victim. hehehe.. yah, bener juga si, mencoba menulis bentuk2 emosi yang muncul, sebaiknya tidak hanya hal2 besar saja, tapi juga dari hal2 kecil, soalnya perbaikan sebaiknya dimulai dari yang lebih kecil dulu (iya ga sih?? *sotoy mode : ON*)
7. Jangan terlalu diambil hati (Don't take it personally). Jika sedang dalam rangka perdebatan dengan seseorang, jangan terlalu diambil hati, cobalah untuk melihat sesuatu seobjektif mungkin, dari mana sesuatu itu memang harus dipandang, maka hal itu akan sangat membantu untuk menjaga emosimu tetap pada tempatnya.
>>> ehm, I always take something "it" personally, but I think I dont need to overtaking care of it ocassionally. Saya emang orang yang agak sensi banget, tapi saya selalu berusaha tidak terlalu mengambil pusing untuk hal2 yang ga gitu penting.
***
... well I guess it just suggest tat tis is just what happiness is ...
(^_^)v *peace*
(^_^)v *peace*
..
25.11.08
This is The Last, This is The Hardest
Akhirnya, masuk juga ke fase yang paling aku takutkan dari awal. Skripsi. Sejak awal masuk kuliah, aku tau semua akan berjalan mudah, dan pada akhir nanti, akan sesulit apa, aku udah pernah kebayang, and this is it. Aku akhirnya ngalamin, dalam proses pembelajaranku, ini yang terberat. Ujian mental-intelektual nya bener-bener diuji disini. I've been thinking bout it before. And yes it happened.
Terberat adalah bukan pada proses menulisnya, karena sebenernya, untuk jenjang S1, aku bilang adalah proses belajar plagiarisme berkedok replikasi. Parah memang, tapi manusia-manusia kita mungkin sudah kehabisan "ide", tapi sebenernya idealisme mahasiswa kan sangat-sangat kental, kadang ide itu ada, tapi meramunya dalam suatu bentuk penelitian itu yang butuh pemikiran dan butuh orang yang cukup mau "susah" untuk menjalankan sebuah ide orisinil. Misalnya saja Ridwan (bukan nama sebenarnya), seorang temen yang baru aku temui beberapa hari yang lalu dikampus. Aku sempet nanya, gimana skripsi? Dia jawab gini, "ni aku baru aja ketemu Pak Nanang, aku nguji salah satu teori mengenai instrumen dalam Marketing Communication, ngajuin draft proposal dan kerangka pikir, salah smua, disuru cari jurnal "pem-back-up" yang banyak. Yawdah, aku bilang aja, yawdah pak, saya ambil penelitian replikasi aja."
Ataw aku sendiri, diawal ngajuin judul juga udah dipatahkan duluan, bikin engga semangat. Alhasil, saya bilang yang sama kek kalimat akhir Ridwan : yawdah, saya ganti judul aja pak.
Tidak hanya butuh orang-orang yang mau concern akan ilmu dalam membuat sebuah penelitian orisinil, tapi juga butuh support donk, minimal dari seorang dosen pembimbing lah (saya heran juga, dalam disiplin ilmu2 sosial, mostly dosen pembimbing hanya 1 orang), tapi ini, dosen pembimbing bukannya bantu, malah ngasi ujian mental yang kadang2 terlalu berlebihan. Ataw seperti dalam kasus Ridwan, malah sebenernya ya diminta balik balik lagi, ke "penelitian replikasi".
Well, papa pernah bilang gini waktu aku bingung proposal pertama ditolak. "Ndri, yang saya tau, untuk jenjang S1 itu memang tidak begitu susah, hanya pendalaman teori yang ada saja direlevansikan dengan aplikasi dilapangan. Untuk jenjang S2 menguji teori, dan S3 sendiri baru membuat teori baru". Aku manggut-manggut aja, sok ngerti. Yah, yang saya tangkap adalah sistem kita yang membentuk seperti itu, bahwa jenjang S1 misalnya hanya perlu penelitian replikasi (padahal sebenernya plagiat). Hmm.. berarti penelitian Ridwan setara S2?? Hebat. Hebat. Kalo kek gini kan sayang, pola pikir sebenernya udah setara S2, tapi tetep ditarik kebelakang juga. Bingung ah!
Enough tentang ide-ide itu, skarang bahas ttg perilaku Dosen dalam membimbing mahasiswa/i nya (a.k.a ngegosipin dosen). Pertama, maafkan saya sebelumnya bapak2/ibu2 Dosen yang sangat saya hormati, ini cuman curahan hati mahasiswi yang digantung selama 1,5 bulan di Bab 1. Ceritanya si sirik pak, karena ada temen yang dalam 1,5 bulan udah sampek Bab 4. haha.. :)
Jadi gini, blakangan kebanyakan waktu tersita mikiiir aja gimana ya biar bisa lulus cepet, padahal lulus cepet kan tergantung gmn kita nulis, kalo mikir kek gitu mulu ga nulis2 mana bisa lulus cepet. haha.. ga, ga, maksutnya gini, yang aku hadapi skarang adalah bapak Dosen Yth yang rupanya terkenal lama kalo memberi bimbingan mahasiswanya, bukannya kalo stiap kali konsultasi yang lama lho, cuman 5 meniiit aja. Tapi waktu penyelesaian skripsi nya itu yang lumayan lama, pernah seorang dosen laen bilang ke aku gitu, waduh, rupanya sepak terjangnya beliau juga bahkan sudah diakui oleh temen sendiri. kirain cuman gosip belaka. Soalnya beliau jago banget nulis, dan sebenernya tujuan beliau baek, baek banget, biar kita belajar nulis yang bener itu kayak apa (mulia sangad bukan???), kerna sebenernya cara kita selama ini sudah melenceng jauh dari yang sebenernya. "Makanya kalian menulis, dan sekaligus sebagai proses belajar gmn menulis yang baik" kata bapak dosen. Yep. Tujuan yang betul2 mulia sodara sodara!
Kembali ke tujuan, itu tujuan beliaw. Hell no! Beliaw cukup bisa dibilang egois ga ya, ga nanya tujuan kita, secara yang nulis kan kita, bukan beliaw. Tujuan kita adalah "pengin lulus lebih cepet". Tapi ya susah, kalo dari awal tujuan itu engga dikomunikasikan dengan baek. Ikut tujuan beliaw, perang batin!! haha (lebai).
Ok, skarang kita menyorot gimana mereka dalam memberi bimbingan, ataw aku sebut saja ujian mental (bukan nama sebenernya, lhoh???). Kadang2 kebanyakan kasus si, kita udah janji mao ketemu dimana jem brapa gitu, tapi pas dicariin orangnya ga ada, ditelponin, ga aktip ataw aktip tapi ga diangkat, ataw diangkat tapi alesannya lg rapat, disambung janji2 laen bisa ketemu kapan. Huh, janji2 palsu (ceileeeeh..). Yang parah, ada temen yang semacam dihindari sama dosen gitu, tiap coba bikin janji ketemu, adaaa aja alesannya. Ada juga yang ga mao ditemuin dirumah, sekali waktu bisa ke rumahnya, cuman bisa disuru nunggu depan pager, iya, kalo ga apes tu dosen lagi punya anjing, trus anjingnya disuru ngejar kita. beuh!! (papa pernah ngalamin ini, sadisnyaa!!!)
Dulu, waktu awal2 semester sempet depress (beraaaat) ngadepin dosen pembimbing KKN-P. Kasusnya sama, bedanya dulu itu aku terdesak sama hasrat ingin pulang, jadi harus cepet2. Pernah, aku bela2in dari kantor (t4 KKN-P) ujan2 buwat ketemu beliaw dikampus kerna udah janjian, pas dicariin ga ada. Lantas nelpon Hape, ga aktip, trus nelpon rumah, rupanya beliaw sedang tidur siang :) ya, ya, sabaaar, alhasil aku baru boleh nelpon jem 4 sore pas jadwal beliaw dah bangun. Waktu itu sempet bener2 rasanya mao hengkang aja, quit. soalnya lagi numpuk2 si bebannya, engga hanya satu itu, banyaaak. jadinya agak2 lebay menanggapi hal itu, padahal kata papa itu udah biasa. biasa banget. Malah sempet ngetawain.
Terakhir ditelpon kmaren sore papa bilang, "papa kan udah bilang sejak awal, nanti ketika kamu hadapi itu, disisi itu mental sekaligus intelektualitas mu diuji, itu baru jenjang s1 lho. entar kalo S2 bakal lebih berat."
Yah, depends on lucky juga siy, dan daripada aku nggerutu mulu, mending ngetik skripsi yaw!!
Ganbatte!!!
Off I go.
:)
..
Terberat adalah bukan pada proses menulisnya, karena sebenernya, untuk jenjang S1, aku bilang adalah proses belajar plagiarisme berkedok replikasi. Parah memang, tapi manusia-manusia kita mungkin sudah kehabisan "ide", tapi sebenernya idealisme mahasiswa kan sangat-sangat kental, kadang ide itu ada, tapi meramunya dalam suatu bentuk penelitian itu yang butuh pemikiran dan butuh orang yang cukup mau "susah" untuk menjalankan sebuah ide orisinil. Misalnya saja Ridwan (bukan nama sebenarnya), seorang temen yang baru aku temui beberapa hari yang lalu dikampus. Aku sempet nanya, gimana skripsi? Dia jawab gini, "ni aku baru aja ketemu Pak Nanang, aku nguji salah satu teori mengenai instrumen dalam Marketing Communication, ngajuin draft proposal dan kerangka pikir, salah smua, disuru cari jurnal "pem-back-up" yang banyak. Yawdah, aku bilang aja, yawdah pak, saya ambil penelitian replikasi aja."
Ataw aku sendiri, diawal ngajuin judul juga udah dipatahkan duluan, bikin engga semangat. Alhasil, saya bilang yang sama kek kalimat akhir Ridwan : yawdah, saya ganti judul aja pak.
Tidak hanya butuh orang-orang yang mau concern akan ilmu dalam membuat sebuah penelitian orisinil, tapi juga butuh support donk, minimal dari seorang dosen pembimbing lah (saya heran juga, dalam disiplin ilmu2 sosial, mostly dosen pembimbing hanya 1 orang), tapi ini, dosen pembimbing bukannya bantu, malah ngasi ujian mental yang kadang2 terlalu berlebihan. Ataw seperti dalam kasus Ridwan, malah sebenernya ya diminta balik balik lagi, ke "penelitian replikasi".
Well, papa pernah bilang gini waktu aku bingung proposal pertama ditolak. "Ndri, yang saya tau, untuk jenjang S1 itu memang tidak begitu susah, hanya pendalaman teori yang ada saja direlevansikan dengan aplikasi dilapangan. Untuk jenjang S2 menguji teori, dan S3 sendiri baru membuat teori baru". Aku manggut-manggut aja, sok ngerti. Yah, yang saya tangkap adalah sistem kita yang membentuk seperti itu, bahwa jenjang S1 misalnya hanya perlu penelitian replikasi (padahal sebenernya plagiat). Hmm.. berarti penelitian Ridwan setara S2?? Hebat. Hebat. Kalo kek gini kan sayang, pola pikir sebenernya udah setara S2, tapi tetep ditarik kebelakang juga. Bingung ah!
Enough tentang ide-ide itu, skarang bahas ttg perilaku Dosen dalam membimbing mahasiswa/i nya (a.k.a ngegosipin dosen). Pertama, maafkan saya sebelumnya bapak2/ibu2 Dosen yang sangat saya hormati, ini cuman curahan hati mahasiswi yang digantung selama 1,5 bulan di Bab 1. Ceritanya si sirik pak, karena ada temen yang dalam 1,5 bulan udah sampek Bab 4. haha.. :)
Jadi gini, blakangan kebanyakan waktu tersita mikiiir aja gimana ya biar bisa lulus cepet, padahal lulus cepet kan tergantung gmn kita nulis, kalo mikir kek gitu mulu ga nulis2 mana bisa lulus cepet. haha.. ga, ga, maksutnya gini, yang aku hadapi skarang adalah bapak Dosen Yth yang rupanya terkenal lama kalo memberi bimbingan mahasiswanya, bukannya kalo stiap kali konsultasi yang lama lho, cuman 5 meniiit aja. Tapi waktu penyelesaian skripsi nya itu yang lumayan lama, pernah seorang dosen laen bilang ke aku gitu, waduh, rupanya sepak terjangnya beliau juga bahkan sudah diakui oleh temen sendiri. kirain cuman gosip belaka. Soalnya beliau jago banget nulis, dan sebenernya tujuan beliau baek, baek banget, biar kita belajar nulis yang bener itu kayak apa (mulia sangad bukan???), kerna sebenernya cara kita selama ini sudah melenceng jauh dari yang sebenernya. "Makanya kalian menulis, dan sekaligus sebagai proses belajar gmn menulis yang baik" kata bapak dosen. Yep. Tujuan yang betul2 mulia sodara sodara!
Kembali ke tujuan, itu tujuan beliaw. Hell no! Beliaw cukup bisa dibilang egois ga ya, ga nanya tujuan kita, secara yang nulis kan kita, bukan beliaw. Tujuan kita adalah "pengin lulus lebih cepet". Tapi ya susah, kalo dari awal tujuan itu engga dikomunikasikan dengan baek. Ikut tujuan beliaw, perang batin!! haha (lebai).
Ok, skarang kita menyorot gimana mereka dalam memberi bimbingan, ataw aku sebut saja ujian mental (bukan nama sebenernya, lhoh???). Kadang2 kebanyakan kasus si, kita udah janji mao ketemu dimana jem brapa gitu, tapi pas dicariin orangnya ga ada, ditelponin, ga aktip ataw aktip tapi ga diangkat, ataw diangkat tapi alesannya lg rapat, disambung janji2 laen bisa ketemu kapan. Huh, janji2 palsu (ceileeeeh..). Yang parah, ada temen yang semacam dihindari sama dosen gitu, tiap coba bikin janji ketemu, adaaa aja alesannya. Ada juga yang ga mao ditemuin dirumah, sekali waktu bisa ke rumahnya, cuman bisa disuru nunggu depan pager, iya, kalo ga apes tu dosen lagi punya anjing, trus anjingnya disuru ngejar kita. beuh!! (papa pernah ngalamin ini, sadisnyaa!!!)
Dulu, waktu awal2 semester sempet depress (beraaaat) ngadepin dosen pembimbing KKN-P. Kasusnya sama, bedanya dulu itu aku terdesak sama hasrat ingin pulang, jadi harus cepet2. Pernah, aku bela2in dari kantor (t4 KKN-P) ujan2 buwat ketemu beliaw dikampus kerna udah janjian, pas dicariin ga ada. Lantas nelpon Hape, ga aktip, trus nelpon rumah, rupanya beliaw sedang tidur siang :) ya, ya, sabaaar, alhasil aku baru boleh nelpon jem 4 sore pas jadwal beliaw dah bangun. Waktu itu sempet bener2 rasanya mao hengkang aja, quit. soalnya lagi numpuk2 si bebannya, engga hanya satu itu, banyaaak. jadinya agak2 lebay menanggapi hal itu, padahal kata papa itu udah biasa. biasa banget. Malah sempet ngetawain.
Terakhir ditelpon kmaren sore papa bilang, "papa kan udah bilang sejak awal, nanti ketika kamu hadapi itu, disisi itu mental sekaligus intelektualitas mu diuji, itu baru jenjang s1 lho. entar kalo S2 bakal lebih berat."
Yah, depends on lucky juga siy, dan daripada aku nggerutu mulu, mending ngetik skripsi yaw!!
Ganbatte!!!
Off I go.
:)
..
7.5.08
Kisah kalian..
Bukan tentang Romeo dan Juliet yang di tulis oleh Shakespeare, bukan pula kisah Tristan dan Isolde, tapi bagiku kisah cinta paling dalam yang pernah aku kenal adalah kisah Ayah dan Ibu.
Aku lupa sejarah mereka jadian a.k.a pacaran, yang aku tahu, mereka bertemu di komplek perumahan yang waktu ayah tinggal bersama kakak tertuanya, dan ibu dengan suatu alasan tertentu di titipkan di rumah tantenya. Mereka saling kenal dan jalan bareng entah sejak kapan hingga sesuatu terjadi pada ibu ketika itu.
Suatu malam, ibu tiba-tiba bermimpi aneh, mimpi tersebut terus berlanjut pada ketakutan ibu yang luar biasa, dia kadang merasakan dengungan yang luar biasa pada telinganya, entah apa yang terjadi. sejak setelah mimpi malam itu, ibu jatuh sakit. hanya bisa terbaring di tempat tidur, terkadang tiba-tiba menjerit kesakitan, atau karena ketakutan melihat sesuatu di depannya, yang orang lain tidak bisa melihatnya.
Karena ibu sakit, dia tidak bisa di tinggalkan sendirian di rumah, padahal di rumah tantenya di komplek pandang2 itu semua orang beraktivitas, tidak ada yang sempat tinggal untuk menjaga ibu, akhirnya ibu di bawa ke rumah neneknya, yang berjarak 1 jam naek angkot dari rumah tantenya yang sebelumnya.
Ketika itu ayah dan ibu masih dalam status jadian, sejak mendengar kabar ibu sakit, ayah selalu menyempatkan diri mampir ke rumah nenek untuk menjenguk sepulang kuliah, kadang dengan kebandelan ayah, dia membawa motor vespa punya kaka iparnya tanpa bilang terlebih dahulu, alhasil setiap kali pulang, dia pasti dapat teguran.
Berlanjut ttg ayah, tidak hanya keluarga ibu saja yang berusaha agar ibu bisa sembuh, ayah tidak pernah absen setiap kali berkunjung kesana membawa sodaranya yang aku kenal dengan om mahmud yang kebetulan seorang parawat, mungkin bisa membantu, pikir ayah.
Rupanya, pihak dokter sendiri tidak menemukan alasan medis atas penyakit ibu, tapi toh ayah tetap rajin berkunjung ke rumah nenek untuk memeriksa kesehatan ibu, ataw sekedar menjaganya. Untuk waktu yang cukup lama ibu tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Sebagian besar waktu ayah ia sempatkan untuk tetap ada di samping ibu, sekalipun ibu tidak sedang sadarkan diri. Ibu memang sering sadar, tapi dia tidak bisa apa-apa.
Sampai pada suatu ketika, ayah berkunjung ke rumah nenek seperti biasa untuk menjaga ibu. Nenek lalu memanggil ayah untuk membicarakan sesuatu.
"nak, kamu lihat sekarang keadaan wati seperti itu, kamu sudah dewasa, apakah kamu masih ingin menunggu dia? padahal sepertinya dia tidak ada harapan lagi untuk hidup?"
"iya bu, saya yakin, dia bisa sembuh.."
hanya itu jawaban ayah. Nenek hanya bisa tersenyum, dan bilang terima kasih nak.
Hari demi hari berlalu, akhirnya ibu bisa berangsur pulih dengan satu penyakit yang tidak bisa dihindari. Ia tidak lagi bisa mendengar. Sekalipun tubuhnya bisa berangsur membaik. Ibu memang kuat.
Setelah keadaan yang membaik, ibu kembali tinggal se komplek dengan ayah, ayah masih berusaha mencari cara agar ibu bisa sembuh. Kebetulan ibu juga dekat dengan kakak nya ayah. Dia selalu membantu, tidak sedikit tempat yang mereka datangi untuk mencoba menyembuhkan ibu, kalau dokter sudah angkat tangan, maka mereka mencari obat ke orang-orang 'pintar', tapi hasilnya masih nihil. Keluarga ibu pernah mencoba memasang alat bantu pendengaran untuknya, ibu memang berhasil mendengar, tapi ibu sering merasa kesakitan sendiri dengan alat itu, suaranya terlalu mendengung, katanya. alhasil, alatnya di cabut lagi.
Kala itu ayah masih belum menikah dengan ibu, tapi kedekatan antar kedua keluarga sangat erat. Sampai ketika ayah mengutarakan niat untuk meminang ibu kepada nenek, nenek kembali menanyakan pertanyaan yang sama ketika itu : kamu yakin nak, akan menikah? sanggup menjaga dia dalam keadaan seperti itu?
Ayah tetap pada pendiriannya : saya yakin bu, jawabnya.
Akhirnya mereka menikah, dan masih langgeng sampai saat ini, insya Allah_
Cerita ini aku dapat justru dari nenek, ayah atau ibu tidak pernah bercerita kepada kami tentang ini, ibu hanya pernah bilang begini : kalo kamu mencari pasangan hidup nanti, cari cowok yang seperti papamu.
Cerita ini aku dapat ketika berkunjung ke rumah nenek, ayah tidak sempat ikut karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. sepulang dari rumah nenek, ketika bertemu ayah, aku cerita ttg semuanya. Ayah cuman bilang : tahu kenapa papa lakukan itu? karena papa tidak mau suatu saat nanti keturunan papa di khianati orang. aku hanya tersenyum, subhanallah...
-unknown-
Aku lupa sejarah mereka jadian a.k.a pacaran, yang aku tahu, mereka bertemu di komplek perumahan yang waktu ayah tinggal bersama kakak tertuanya, dan ibu dengan suatu alasan tertentu di titipkan di rumah tantenya. Mereka saling kenal dan jalan bareng entah sejak kapan hingga sesuatu terjadi pada ibu ketika itu.
Suatu malam, ibu tiba-tiba bermimpi aneh, mimpi tersebut terus berlanjut pada ketakutan ibu yang luar biasa, dia kadang merasakan dengungan yang luar biasa pada telinganya, entah apa yang terjadi. sejak setelah mimpi malam itu, ibu jatuh sakit. hanya bisa terbaring di tempat tidur, terkadang tiba-tiba menjerit kesakitan, atau karena ketakutan melihat sesuatu di depannya, yang orang lain tidak bisa melihatnya.
Karena ibu sakit, dia tidak bisa di tinggalkan sendirian di rumah, padahal di rumah tantenya di komplek pandang2 itu semua orang beraktivitas, tidak ada yang sempat tinggal untuk menjaga ibu, akhirnya ibu di bawa ke rumah neneknya, yang berjarak 1 jam naek angkot dari rumah tantenya yang sebelumnya.
Ketika itu ayah dan ibu masih dalam status jadian, sejak mendengar kabar ibu sakit, ayah selalu menyempatkan diri mampir ke rumah nenek untuk menjenguk sepulang kuliah, kadang dengan kebandelan ayah, dia membawa motor vespa punya kaka iparnya tanpa bilang terlebih dahulu, alhasil setiap kali pulang, dia pasti dapat teguran.
Berlanjut ttg ayah, tidak hanya keluarga ibu saja yang berusaha agar ibu bisa sembuh, ayah tidak pernah absen setiap kali berkunjung kesana membawa sodaranya yang aku kenal dengan om mahmud yang kebetulan seorang parawat, mungkin bisa membantu, pikir ayah.
Rupanya, pihak dokter sendiri tidak menemukan alasan medis atas penyakit ibu, tapi toh ayah tetap rajin berkunjung ke rumah nenek untuk memeriksa kesehatan ibu, ataw sekedar menjaganya. Untuk waktu yang cukup lama ibu tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Sebagian besar waktu ayah ia sempatkan untuk tetap ada di samping ibu, sekalipun ibu tidak sedang sadarkan diri. Ibu memang sering sadar, tapi dia tidak bisa apa-apa.
Sampai pada suatu ketika, ayah berkunjung ke rumah nenek seperti biasa untuk menjaga ibu. Nenek lalu memanggil ayah untuk membicarakan sesuatu.
"nak, kamu lihat sekarang keadaan wati seperti itu, kamu sudah dewasa, apakah kamu masih ingin menunggu dia? padahal sepertinya dia tidak ada harapan lagi untuk hidup?"
"iya bu, saya yakin, dia bisa sembuh.."
hanya itu jawaban ayah. Nenek hanya bisa tersenyum, dan bilang terima kasih nak.
Hari demi hari berlalu, akhirnya ibu bisa berangsur pulih dengan satu penyakit yang tidak bisa dihindari. Ia tidak lagi bisa mendengar. Sekalipun tubuhnya bisa berangsur membaik. Ibu memang kuat.
Setelah keadaan yang membaik, ibu kembali tinggal se komplek dengan ayah, ayah masih berusaha mencari cara agar ibu bisa sembuh. Kebetulan ibu juga dekat dengan kakak nya ayah. Dia selalu membantu, tidak sedikit tempat yang mereka datangi untuk mencoba menyembuhkan ibu, kalau dokter sudah angkat tangan, maka mereka mencari obat ke orang-orang 'pintar', tapi hasilnya masih nihil. Keluarga ibu pernah mencoba memasang alat bantu pendengaran untuknya, ibu memang berhasil mendengar, tapi ibu sering merasa kesakitan sendiri dengan alat itu, suaranya terlalu mendengung, katanya. alhasil, alatnya di cabut lagi.
Kala itu ayah masih belum menikah dengan ibu, tapi kedekatan antar kedua keluarga sangat erat. Sampai ketika ayah mengutarakan niat untuk meminang ibu kepada nenek, nenek kembali menanyakan pertanyaan yang sama ketika itu : kamu yakin nak, akan menikah? sanggup menjaga dia dalam keadaan seperti itu?
Ayah tetap pada pendiriannya : saya yakin bu, jawabnya.
Akhirnya mereka menikah, dan masih langgeng sampai saat ini, insya Allah_
Cerita ini aku dapat justru dari nenek, ayah atau ibu tidak pernah bercerita kepada kami tentang ini, ibu hanya pernah bilang begini : kalo kamu mencari pasangan hidup nanti, cari cowok yang seperti papamu.
Cerita ini aku dapat ketika berkunjung ke rumah nenek, ayah tidak sempat ikut karena banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. sepulang dari rumah nenek, ketika bertemu ayah, aku cerita ttg semuanya. Ayah cuman bilang : tahu kenapa papa lakukan itu? karena papa tidak mau suatu saat nanti keturunan papa di khianati orang. aku hanya tersenyum, subhanallah...
-unknown-
30.4.08
Heart v Mind
Hidup memang membingungkan.Betapa tidak, aku terus di kuasai oleh logika dan hati pun tidak mau kalah. Otakku saat ini berpikir bagaimana untuk terus tegar bertahan (terkadang demi gengsi) tetapi hati ikut campur dengan mengatakan "kamu tidak seharusnya seperti itu, dia juga manusia kan?"
Tapi sejujurnya hari-hariku selalu diwarnai dengan pertengkaran antara hati dan otak itu. Aku tidak tahu bagaimana harus memenangkan keduanya.
Seperti yang terjadi hari ini. Seorang teman telah mengecewakanku dengan melanggar janji makan bareng siang ini. Aku diam saja, sebelum dia bergerak untuk memberi penjelasan. Akhirnya dia melakukannya. Dia minta maaf karena ketiduran dan telah melewati batas waktu janji kita.
Logika bilang, tidak seharusnya kan dia mengatakan itu kepadamu,
karena dirimupun tidak pernah melanggar janji bertemu hanya dengan dalih ketiduran.
Hatiku bergejolak, dia juga manusia biasa-yang pastinya tak sebaik dirimu dalam mengatur waktu.
Dan siapa yang harus kumenangkan.
Akhirnya, aku hanya cukup mengatakan "tat's OK!".
Tak kuberi kata-kata lain..karena kupikir aku tidak harus ikut-ikutan berdalih.
Dan sudahlah…hanya itu yang bisa membuatku terlihat bertahan terhadap logika sekaligus memenangkan hati yang cinta damai.
Aku harus cukup kuat bahkan untuk hal sepele seperti itu.
Tapi sejujurnya hari-hariku selalu diwarnai dengan pertengkaran antara hati dan otak itu. Aku tidak tahu bagaimana harus memenangkan keduanya.
Seperti yang terjadi hari ini. Seorang teman telah mengecewakanku dengan melanggar janji makan bareng siang ini. Aku diam saja, sebelum dia bergerak untuk memberi penjelasan. Akhirnya dia melakukannya. Dia minta maaf karena ketiduran dan telah melewati batas waktu janji kita.
Logika bilang, tidak seharusnya kan dia mengatakan itu kepadamu,
karena dirimupun tidak pernah melanggar janji bertemu hanya dengan dalih ketiduran.
Hatiku bergejolak, dia juga manusia biasa-yang pastinya tak sebaik dirimu dalam mengatur waktu.
Dan siapa yang harus kumenangkan.
Akhirnya, aku hanya cukup mengatakan "tat's OK!".
Tak kuberi kata-kata lain..karena kupikir aku tidak harus ikut-ikutan berdalih.
Dan sudahlah…hanya itu yang bisa membuatku terlihat bertahan terhadap logika sekaligus memenangkan hati yang cinta damai.
Aku harus cukup kuat bahkan untuk hal sepele seperti itu.
29.4.08
Thanks Dad
Once I get Confused... :(Sedari tadi, seharian, kosong, ga ngerjain apa-apa kecuali browsing, nongkrong di kaskus, ataw update berita terbaru di MP [emang ada???]-nu stuff maksutnya..hehe.. :D
Males banget rasanya ga ngerjain apa-apa. sesekali ku tengok mt4, ga ada yang menarik, chart bolak-balek mondar-mandir gitu2 aja, profit ga bisa maksimal. henfon tergeletak begitu saja, tidak ada telfon, tidak ada sms, kecuali terakhir aku sms ke siz, minta tolong sesuatu yang ternyata dia pun ga bisa nolongin. sabaar.. :)
Kali ini posisi leptop pindah t4, karena capek duduk dengan bahu lurus terus-terusan dari tadi, leptop ku pindah ke t4 tidur, biar sedikit lebih santai di depan komputer. Kali ini sudah cukup bosan dengan aktivitas itu-itu saja, kurebahkan tubuhku begitu saja, tidak lama setelahnya, henfonku bergetar, lantunan intro Bella Luna nya Jason Mraz terdengar, belum sempat kulihat siapa yang menelfon, aku tahu, pasti papa. dan yap! papa nelfon..yippie!!!
Sejak awal, aku tahu, kemana aku harus bercerita selain kepada Tuhan,
Sapaan hangat sedikit bergurau dari papa, aku selalu suka bagian awal pembicaraan kita, dia akan berlagak seperti berbicara dengan seorang resepsionis meminta di sambungkan dengan anaknya yang bernama Indri, dan sekali seperti itu, aku pasti akan menjawab, ya, saya sendiri.ada yang bisa saya bantu??? hehe..
Selanjutnya, dia pasti bertanya, kamu di mana? seharian ngapain aja? topik pembicaraan tadi adalah next trip nya dia, haha...maksutnya perjalanan dinas selanjutnya, dia juga selalu ada waktu bercerita padaku bahkan ttg hal-hal sepele seperti itu, tidak jarang kita bergosip ttg teman kantornya ataw teman2 kosanku, haha...namun di balik semua itu, kebijaksanaan seorang ayah tidak pernah ia tinggalkan, selalu ada sesuatu yang harus ia katakan ttg makna dari semua yang kita alami, di balik candaan itu.
Kali ini, aku sedikit bercerita ttg keraguanku, ttg prioritasku yang masih coba kujalankan dengan konsistensi diri, sesekali aku mengeluh, selalu saja dia jawab dengan candaan, dan itu tidak membuwatku down, justru membuatku semakin kuat.
Ayah, seperti idealisme ku, banyak prinsip yang ku pegang tidak jauh dari apa yang pernah ia tanamkan padaku, sehingga setiap kali ada yang mencoba menggoyahkanku, aku selalu bisa dikuatkan olehnya, tanpa membelakangi pola pikirku sendiri tentang apa atau siapa yang seharusnya aku lihat dan dengar.

Siapapun yang pernah bilang, ini hidupmu ndri, yang menentukan adalah dirimu, bukan diriku, ayah-atau ibumu. ya, ini memang hidupku, tapi aku tahu siapa yang seharusnya aku dengar dan siapa yang seharusnya kupertimbangkan untuk ku jadikan panutan. Dia masih ayahku, sampai saat ini. Idealismenya masih terlalu sempurna untuk ku retakkan, karena sampai saat ini aku tidak mungkin bisa menjadi apa-apa tanpa dia. Ayah...terima kasih...
I do know what I've done... :)
Langganan:
Postingan (Atom)